Pengalaman Membuat Visa Jepang

Kali ini kami ingin share pengalaman membuat visa jepang. Gak drama-drama banget sih tapi cukup banyak cerita yang kami alami. Sebetulnya untuk masuk ke jepang kita warga Negara Indonesia yang sudah memiliki epaspor bisa bebas visa.  Karena paspor kami belum epaspor, jadinya kami butuh visa deh.

Sebelumnya kami mendapat promo tiket ke Tokyo by Malaysia Airlines. Lagi – lagi dengan maskapai yang baik banget yang juga ngasih kami tiket umroh 2 bulan lalu. Ahhh terimakasih dari lubuk hati yang paling dalam karena biasanya kami hanya mendapatkan promo untuk Low cost Carrier kali ini promo dari maskapai Full Service. Alhamdulillah.

Pengalaman Membuat Visa Jepang

So, Ini dia Pengalaman Membuat Visa Jepang Kami Beberapa Waktu Lalu

Persiapan dimulai saat mengumpulkan persyaratan seperti biasa namun yang sangat di titik beratkan di visa jepang adalah penginapan, bookingan tiket pesawat dan juga Ittinerary tanpa di tanya NPWP dan SPT seperti Visa Korea. Memang lebih simpel. Untuk persyaratan visa kunjungan sementara untuk tujuan wisata dengan biaya sendiri lainnya bisa dilihat di web kedutaan Jepang.

Untuk rekening yang ada di tabungan di perhitungkan 1,5 jt X lama tinggal di jepang. Misal mau stay untuk 7 hari nah di rekening harus ada 1,5jt X 7 hari = Rp 10.500.000 minimal ada di saldo terakhir kamu. Oiya, yang dilihat di rekening kita itu bukan semata – mata jumlahnya saja lho, namun juga mutasi dan keaktifan rekeningnya.

Kali ini seperti biasa kami mencoba proses pembuatan Visa sendiri tanpa bantuan travel Agen. Lokasi kedutaan yang berada di pusat kota Jakarta membuat kami harus berangkat lebih awal dari Bandung yaitu sehari sebelum pengajuan visa agar besoknya bisa datang pagi kedutaan.

Keesokan paginya, berangkatlah kami ke kedutaan, sampai disana sebelum masuk tas kami diperiksa dan diubek – ubek sama petugas keamanan, prosedur standar pengamanan. Kami  lalu menukar KTP dengan nomer kunjungan yang akan ditukar lagi ketika meninggalkan kedutaan. Protap selanjutnya tas kami di-scan sebelum akhirnya bisa memasuki gedung dan mengambil nomer antrian.

Saat itu sudah penuh orang,  tapi ternyata antrian yang panjang ga bikin kami harus menunggu terlalu lama karena rata – rata perorang dilayani 2-5 menit saja. Satu hal yang harus diperhatikan dari pengalaman membuat visa jepang kami adalah jangan sampai giliran kita terlewat seperti yang kami alami. Ini konyol banget sumpah.

Sebetulnya kami menunggu hanya 20 no antrian, harusnya bisa lebih cepat selesai. Ketika giliran antrian tinggal 3 nomer lagi, perhatian kami teralihkan karena sibuk membereskan berkas yang belum rapih. Ga lama liat ke layar no antrian kami sudah kelewat satu nomer. Ya ampuun, dan ternyata petugas sudah memencet bel 2 kali, dan karena kami tidak merespon antrian kami jadi dilewat deh. Haruslah kami mengambil lagi antrian yang baru. Pelajaran banget untuk fokus nih. Dengan lemes kami ambil nomer antrian yang baru. Dan ampun dong, nomer kami mundur 40 nomer antrian lagi. Aahhhh beneran padahal meleng sedikit doang. my Bad!

Sambil nunggu kami berpindah duduk ke arah yang lebih dekat dengan loket nya biar gak kelewat lagi. Saat itu ternyata yang mengalami nasib balada no antrian bukan hanya kami. Ada mbak – mbak yang hanya telat melangkah pun di skip no nya. Bener – bener disiplin ya.

Akhirnya nomer kami pun muncul dilayar dan kami dengan PD nya bawa dan menyerahkan kami & 2 teman yang lain. Ternyata untuk visa jepang kita hanya bisa membawa dokumen milik suami/istri dan keluarga dalam Kartu keluarga. Jadi punya temen saya di kasih noted “aplikan harus datang sendiri dan di Cap. So untuk temen-temen yang ga bisa hadir sendiri ke kedutaan bisa menggunakan jasa travel agent dengan membayar 500 – 700rb (tergantung agent). Ini sangat  beda dengan Visa korea, karena kami pernah membawa aplikasi milik teman dan itu tidak menjadi masalah.

Besoknya, teman yang aplikasinya diberi catatan terpaksa datang dari Bandung ke Jakarta untuk menyerahkan sendiri aplikasinya.

Setelah selesai diperiksa dan diserahkan, kami dikasih kertas untuk pengambilan passport. Nah, klo untuk pengambilan passport boleh diwakilkan asalkan membawa kertas tanda terimanya. Katanya Visa akan selesai dalam 4 – 5 hari kerja.

Hari berikutnya pengambilan kami datang kembali ke kedutaan. Beda dengan penyerahan yang dilakukan dari jam 9 – 12, pengambilan passport dilakukan mulai jam 13.30 sampai dengan 15.00. Pas datang antrian udah penuh banget padahal kami datang awal waktu sebelum dibuka.

Oiya, usahakan saat pengambilan bawa uang pas yaitu Rp. 370.000 / orang untuk bayar visa karena petugas tidak menyediakan kembalian. Bayar visa jepang itu dilakukan pas pengambilan, bukan penyerahan.

Setelah mengantri cukup lama (banget) sampe kaki pegel pegel, akhirnya tiba giliran kami bisa masuk keruang pengambilan dan mendapat nomer antrian untuk pengambilan passport dan pembayaran visa. Tak berapa lama, tiba giliran kami menuju ke loket. Kami diminta untuk memeriksa data yang tercantum di visa seperti tanggal lahir, nomer passport, dll, apakah sudah sesuai semua. Setelah memeriksa dan memastikan semuanya sesuai kami diminta membayar biaya pengajuan dan bisa membawa pulang Passport kami yang sudah tertempel Visa Jepang. Wohhoooo…!!!

Nah kawan, itu tadi pengalaman membuat visa jepang kami. Nanti di artikel selanjutnya tentang visa jepang kami akan share prosedur pembuatan visa jepang berikut syarat dan dokumen – dokumen pendukung yang bisa dilampirkan terutama untuk freelancer ataupun blogger seperti kami.

Inspire the World:

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin
The following two tabs change content below.

Ina Qurota Aina

Traveler, Cat Lover, & Co Author RanselTravel.com

Latest posts by Ina Qurota Aina (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *