Menginap di Bandara Narita – Jepang

Jika kamu ada rencana menginap di Bandara Narita Jepang maka ini pengalaman kami beberapa waktu lalu menginap di salah satu bandara yang terletak di Tokyo ini. Secara ketentuan, saya belum menemukan aturan boleh atau tidaknya menginap di Bandara. Namun berdasarkan pengalaman kami pernah menginap di bandara Jakarta, KLIA, Macau, Singapore, dan terakhir kemarin di Narita, kami belum pernah dilarang apalagi diusir petugas, malah keseringan dijagain petugas. Hehe.

Menginap di Bandara Narita Jepang

Jangan ragu jika kamu memang “terpaksa” menginap di Bandara Narita. Semua “kebutuhan” hidup tersedia cukup di bandara ini. Banyak hal menarik di Narita International Airport ini, salah satunya adalah banyaknya traveler yang senasib seperti kami “bermalam“ pada saat itu meskipun tak sebanyak bila dibandingkan pengalaman transit di negara lain seperti KLIA atau Changi Airport. Narita airport ini tidak seperti KLIA 2 yang non stop dan selalu ramai dengan toko dan ruang area yang sangat luas. Narita Airport cenderung Sepi bahkan mall di dalamnya tutup jam 09.00 malam. Kami mencoba menjelajah departure area, namun ya ampun sepi banget sampe lampunya dimatikan.

salah satu tempat untuk menarik untuk “membunuh waktu” di Narita Airport adalah ruang terbuka observatory deck yang bisa melihat secara langsung pesawat yang landing dan take off yang dilegkapi dengan kursi dan meja yang nyaman untuk kita menikmati suasana di bandara.

Oiya buat saya yang “doyan” mampir ke toilet, Narita ini bikin nyaman karena toiletnya yang canggih dengan berbagai tombol-tombol unik. Awalnya bingung karena ada sekitar 4-5 tombol yang bisa di tekan dari gambarnya ada untuk flush ada musik untuk “menyamarkan” suara yang entah mengapa saya belum terlalu faham (hehe). Ada juga tombol pengatur level air hangat yang bisa kita atur juga semprotan besaran kekuatannya (uuhhh) pokonya lucu sendiri deh mengulik bidet Toiletnya. Toilet di jepang memang sangat bersih dan nyaman tanpa ada bau tidak sedap. Di beberapa exit pintu toilet terdapat pengisian air minum, so gak harus repot-repot beli dan mengeluarkan uang klo butuh minum, tinggal isi ulang aja ya.

Malam itu kami berusaha mencari makanan halal namun sayang restaurant yang menyajikan makanan halal sudah tutup dengan last order jam 20.00 malam. Hanya 2 toko makanan yang beroperasi 24 jam yaitu Yoshinoya (non halal) yang berada di lantai 2 dan 7eleven yang berada di B1. Akhirnya kami memutuskan hanya membeli nasi putih dan makan bersama lauk kering-an yang dibekal dari rumah. Kami betul – betul penasaran dengan 2 restaurant halal yaitu La Toque dan Tentai Restaurant yang menyajikan makan halal khas jepang yang menggiurkan. Harga perporsinya dibanderol 860 Yen atau sekitar 104.060 dalam kurs rupiah untuk paket makanan termurah. next time kami harus coba… hehe…

Karena landing tepat mendekati waktu magrib akhirnya kita bertanya ke bagian informasi untuk mendapatkan info lokasi musholla dan ternyata tidak jauh dari lokasi kedatangan, musholla/prayer room ini bukan hanya untuk umat islam saja lho tapi juga untuk umat beragama lain yang melakukan meditasi dan lain sebagainya. Lokasi tempat wudhu mini berada didalam ruangan prayer room, yang membuat kita tak harus jauh-jauh ke toilet. Ruangannya berukuran sedang namun begitu sangat nyaman. Kami bertemu beberapa saudara muslim yang juga baru landing dan mau melaksanakan ibadah shalat maghrib.

Spot tidur paling “nyaman” di  Narita airport ini adalah sofa berbahan kulit sintetis yang nyaman dan luas sehingga memungkinkan untuk rebahan dengan nyaman. Tempat ini terdapat di pintu kedatangan juga lantai 2. Di dekat sini juga ada ruang khusus menunggu lengkap dengan area anak – anak yang nyaman. Namun jangan heran klo petugas akan memadamkan beberapa lampu dan berkeliling dengan anjing pelacak ya, itu semata-mata supaya kita aman dalam masa menunggu di bandara.

So, jangan khawatir klo nanti kamu “kemalaman” landing di jepang atau ada flight besoknya yang pagi banget dan gak mau ketinggalan, menginap di bandara Narita bisa jadi pilihan dan pengalaman yang berbeda tentunya.

Share to the World:

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin
The following two tabs change content below.

Ina Qurota Aina

Author of Newbie Backpacker Korea & Certified Wow Korea Supporters 2018 by Korea Tourism Organization.

Latest posts by Ina Qurota Aina (see all)

6 thoughts on “Menginap di Bandara Narita – Jepang

  • Maret kemarin saya juga sempet nyobain menginap di incheon airport, berbekal dari browsing ke brbgai postingan backpacker dan mereka2 yg pernah nginep di airport. Incheon sendiri gak beda jauh dgn narita airport dari yg mas fajar ceritain, tapi tetep aja krna saya semi solo traveller kemarin jadi tidurnya gak bisa senyenyak tidur drumah (ya iyalah ya. He….). Baru bisa merem jam 1 pagi, itupun sempet kebangun krna ada false alarm. Untung koneksi internet kuenceng poll, jadi bisa vicall ke rumah, nonton film, drama, dll jadi gak ngebosenin deh.

  • Saya pernah bermalam di Changi… walaupun kesannya “dijagain” tentara cakep yang wara wiri sambil nenteng senjata laras panjang, tetep saja sj selalu terjaga bila mereka lewat 😀 😀 ..
    Kebetulan menemukan spot yg keren (disebelah hujan kinetik lantai paling atas) plus ada beberapa backpacker yg sudah beristirahat lebih dulu… membuat waktu menunggu pagi di Singapura menjadi menyenangkan (walau agak nggliyeng krn tdk pulas tidur)..
    Tinggal naik 1 lantai sudah tersedia KFC yg buka 24jam… sarapan asyik dg menu seadanya di sana..
    hmmm…. jadi pingin lagi iniiihh 😀 😀

  • Saya mau nanya apakah hanya numpang bobok dan mandi dll bisa dibandara? Lalu misal kita jalan2 ke kota, travel dan ketika mau malam kita nginap lagi dibandara, trus besoknya adventure lagi keluar bandara dan seterusnya….atau sekali dibandara yah tetap dibandara?gak boleh kemanapun

    • Boleh… tapi klo gitu mending ongkos bandara ke kota dipake buat sewa hostel… ongkos ke bandara kan lumayan klo bolak balik gitu

    • Polin
      Ketika ke Manila th 2015 saya 3 malam tidur di Musholla Bandara Ninoy di Lt. 2. Setiap pagi saya keluar jalan kaki sekitar 100 m (bersama karyawan2 Bandara shift malam) utk mendapatkan angkot/ Jeepney untuk city tour. Maghrib balik lagi. Besok pagi begitu lagi. Bahkan saat saya ke Boracay Island bebrapa pakaian sy tinggal di Musholla. Jadi selama di Manila saya menggunakan Musholla sebagai hostel saya. Cukup menghemat. Tidak ada kesulitan saat keluar masuk bandara. Saat pertama datang dan mampir ke Musholla untuk sholat subuh, saya berkenalan dgn bocah Moro yg jualan kue halal di sisi sempit musholla. Saya cepat akrab lalu dikenalin sama Imam Mushola. Dari situlah kemudian saya memutuskan tinggal di musholla….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *