Catatan Umroh Backpacker: Pelajaran 1000$

29 Maret 2018, pagi yang cerah dan indah. Segera setelah sarapan di Hotel kami semua berkumpul di lobby lengkap dengan semua koper dan bawaan menunggu van yang akan mengantar kami ke KLIA. Dari sini kami akan terbang menuju Madinah.

Sebagian besar peserta berangkat bareng dari hotel karena kami memang janjian menginap sehari sebelumnya di hotel dekat KLIA. Sebagian lagi janjian langsung di Bandara pas hari H.

Van yang mengantar kami sudah siap, semua barang dan koper dimasukan. Karena kapasitas van yang Cuma muat 9 orang, jadilah pagi itu kami ambil 1 van dan 2 mobil MPV. Total calon jamaah yang ikut umroh bareng maret lalu adalah 24 orang (23 dewasa dan 1 bayi) yang berasal dari berbagai daerah.

Van dan mobil meluncur mulus menuju KLIA dari tempat kami menginap. Nyaris tanpa kendala bahkan terhitung sangat lancar. Tak berapa lama kendaraan yang kami tumpangi sudah lagi sampai di Bandara.

Tak ada sedikitpun perasaan akan ada “drama” pagi itu. Semua terasa sesuai dan terkandali seperti seharusnya.

Dari total 24 orang yang ikut, penerbangan kami saat itu terbagi menjadi 2 grup dengan flight di jam yang berbeda yaitu pukul 12.00 dengan saya sebagai team leader dan pukul 15.00 dengan istri saya, Ina sebagai team leader. Rencananya 11 orang akan naik penerbangan pulul 12.00, sisanya akan terbang selanjutnya.

Memang bisa ya umroh group datang di Arab dengan penerbangan terpisah seperti itu? Tentu saja bisa, bagaimana kita arrange saja klo soal itu.

Alasan kami split group di 2 penerbangan adalah karena harga tiket klo barengan sudah mahal banget bisa sampai 15jta lebih. Jadi kita bagi 2 penerbangan. Ini tidak jadi masalah jika semua sesuai rencana dan teliti dalam merapihkan dokumen. Akan jadi masalah jika Anda tak belajar dari pengalaman yang akan saya ceritakan ini ☹

Jadi ceritanya, setelah tiba di bandara dengan hati ceria, bersegeralah kami tim A yang rencananya berangkat pukul 12.00 untuk melakukan Check in dan Drop Bagage. Semua berjalan lancar sampai munculah si persoalan “mahrom”.

Yes! Drama dimulai…

Jadi ceritanya 3 dari jamaah perempuan yang ikut di penerbangan jam 12 Mahromnya ada di penerbangan jam 15.00. Dan saat itu mereka dinyatakan tidak boleh terbang karena tidak Bersama mahrom. Ya Allah… Lemes rasanya saya denger itu. Ditambah lagi karena saya dan istri juga di penerbangan yang berbeda, maka otomatis jika saya ikut jam 12.00, nanti istri saya tak bisa berangkat yang jam 15.00. Ya Allah… Klo gk kuat kayaknya udah remuk redam hati saya waktu itu.

Namun begitu saya gak mau nyerah, dengan memohon dan beralasan bahwa kita pergi di hari yang sama dan nanti mahromnya akan nunggu di bandara saya minta pada akak petugas check in untuk mengizinkan kawan – kawan saya ini terbang.

Akak counter check in yang iba melihat kami mencoba menanyakan kepada seniornya apakah boleh kami masuk pesawat dengan kondisi seperti itu? Namun lagi, jawaban yang keluar dari petugas senior adalah TIDAK! Astaghfirullah… Tambah lemes lagi dengernya.

Sebagian boarding pass jamaah yang lolos termasuk saya sudah tercetak dan siap masuk boarding room. Namun begitu tentunya masih menyisakan PR yang amat sangat besar. Saya gak mungkin meninggalkan 3 jamaah perempuan, ada Erlita, Rini, dan Adik saya sendiri  Riva yang dinyatakan tidak bisa ikut flight jam 12.00 ini. Dan itupun ada kemungkina istri saya yang terbang jam 15.00 gak bisa masuk pesawat klo saya berangkat duluan karena tentunya sayalah mahromnya. Dengan masih meminta tolong untuk dicarikan solusi saya bicara kepada akak petugas counter check in untuk mempersilahkan kami masuk.

Namun jawabannya masih TIDAK!

Secercah harapan muncul ketika akak tersebut menyarankan saya untuk mencoba ganti flight jamaah yang bermasalah. Akak tersebut mengarahkan saya ke abang petugas ticketing yang duduk di sisi lain counter check in.

Dengan berlali saya menghampiri meja tempat abang petugas ticketing dan menceritakan case yang sedang terjadi.

Yang pertama adalah saya minta agar Flight nya Ina dipindah jadi jam 12.00 (bareng saya) agar dia tetap bisa terbang karena ada mahrom nya. Dengan sigap dan cekatan abang counter ticketing mencoba membantu saya sebisa mungkin.

Setelah beberapa waktu mencoba untuk memindahkan flight nya Ina lebih awal, ternyata system sudah terkunci dan tidak bisa pindah flight karena penerbangan sudah di depan mata. Ya allah… bertambahlah tekanan saat itu.

Skenario terburuk yang mungkin saja terjadi saat itu adalah:

  1. Ada 3 jamaah perempuan yang mahromnya terpisah akan gagal terbang.
  2. Ina juga akan gagal terbang karena saya sebagai mahromya terbang duluan. Team B yang terbang pukul 15.00 akan terbang tanpa leader.

Astaghfirullah… Saya tak ingin scenario terburuk itu terjadi. Saya tak ingin meninggalkan siapapun di Kuala Lumpur. Saya ingin semua bisa terbang apapun yang terjadi.

Alhamdulillah… di tengah tekanan yang amat besar, di tengah kegelisahan dan tangisan sebagian para jamaah wanita yang dinyatakan tak boleh terbang, Allah masih memberikan saya kejernihan dalam berpikir.

Setelah sedikit menenangkan diri dan menganalisis situasi, saya memutuskan untuk tidak ikut terbang dulu. Saya titipkan jamaah yang sudah pegang boarding pass ke Mas Iqbal, salah satu jamaah dari Depok dan juga mas Dadang untuk memimpin group 1 lebih dulu terbang. Terimakasih yang sangat besar saya ucapkan untuk mas Iqbal dan Mas Dadang yang saya repotin kemarin.

Setelah menitipkan jamaah yang bisa berangkat ke Mas Iqbal dan Mas Dadang, Saya kembali ke akak counter check in untuk pinjam passport saya tadi dan meminta untuk cancel boarding pass karena saya akan pindahkan penerbangan ke jam 3. Dengan sigap akak coucter check in memberikan passport dan merobek boarding pass yang sudah dicetak tersebut.

Kembali saya berlari ke arah abang ticketing. Disini situasi tidak kondusif, si abang ticketing tengah berselisih dengan kapten pesawat tentang suatu hal. Saya tak mengerti apa yang sedang terjadi, namun tentunya ini gak menguntungkan karena setelah persoalannya dengan si kapten pesawat selesai, tentunya si abang sedikit membawa kekesalan tersebut saat membantu saya. Namun begitu, beliau tetap professional dan sekuat mungkin membantu saya.

Dengan saya yang memutuskan untuk batal berangkat penerbangan awal, sekarang ada 4 orang yang coba kami pindahkan penerbangannya. Saya (agar Ina bisa terbang) dan juga 3 orang jamaah wanita single ini yang mahromnya terpisah, Erlita, Rini, dan adik saya sediri si Riva. Sebuah hal “lucu” yang di kemudian hari jadi bahan candaan kami klo itu merupakan pertanda agar mereka cepat dapet mahromnya sendiri 😀

Waktu semakin sempit, saat itu yang ada di pikiran hanyalah gimana caranya ini kita semua ikut berangkat. I don’t like to leave anyone behind!

Bukan uang untuk ganti jadwal yang saya takutkan saat itu melainkan WAKTU! Ya, waktu memaksa kami untuk bekerja secara cepat sebelum system ditutup dan tidak bisa memindahkan penumpang ke flight baru. Bahkan abang itu sendiri bilang klo dia akan coba semampunya mudah – mudahan masih bisa dan tidak terlambat. Klo terlambat maka tak ada yang bisa dilakukan.

Saya serahkan semua data penerbangan dan penumpang yang dibutuhkan untuk memindahkan flight. Waktu terus berjalan, selagi menunggu abang ticketing bekerja dengan laptopnya, tak henti – henti saya berdoa agar semua bisa terbang dan tak henti – henti saya bersistighfar mohon ampun sama Allah.

Waktu terus berjalan, nampak abang ticketing tak bisa memindahkan passenger dari system miliknya. Saat itu dia telpon temannya, kemungkinan dengan waktu tersisa sedikit temannya di sisi lain bisa bantu untuk buka system.

Tegang sekali saya rasanya waktu itu. Berburu dengan waktu. Terbang atau Gagal Terbang!

Sampai pada detik – detik terakhir akhirnya system terbuka. Alhamdulillah…

Walau abang ticketing bilang klo kita “masih sempat” memindahkan penumpang, namun saya masih was was karena tiket belum di tangan. Saat itu abang ticketing menuliskan angka di kalkulator. Angka itu adalah image fee atau biaya memindahkan penumpang ke flight baru. Tertera disana angka 3200 lebih.

Kaget sekali saya waktu itu… Setengah berteriak karena kaget saya bertanya “US Dollar bang?

Bukan, Malaysian Ringgit Pak!”, jawab si abang.

Alhamdulillah, saya piker US Dollar.

Oh, tapi saya pegang US Dollar bang, boleh bayar pakek US$?”, tanya saya.

Bapak tukar lah kat bank di ujung sana”, jawab si abang seraya menunjuk ke arah Money Changer.

Masih sempat bang?”, tanya saya.

Masih pak!

Dan sayapun berlali kecil ke arah money changer yang ditunjuk si abang. Mengeluarkan dana yang ada dari tas dan menukarnya semua dengan Malaysian Ringgit.

Selesai urusan dengan tukar uang saya berlari lagi ke arah ticketing untuk menyelesaikan pembayaran agar tiket cepat confirm.

Alamaaak… Antrian di ticketing ini Panjang sekali, rupanya sepeninggal saya tukar uang tadi banyak juga customer yang kesini dengan berbagai urusan.

Beruntung si abang tadi mengenal saya dan memprioritaskan saya. (Gak terkenal gimana, mendadak satu barisan check in dan ticketing kemaren heboh gara – gara case kami ini).

Selesai payment dan tiket confirmed, ada masalah dengan printer, si printer rusak dan gak bisa ngeprint tiket. Ya Allah… Apalagi ini?

Namun begitu si abang menenangkan saya dan meyakinkan klo tiket sudah confirmed dan saya dianjurkan langsung saja masuk counter check in.

Langsung saja saya minta “pasukan” untuk berbaris rapih dan menyiapkan dokumen juga koper untuk check in dan drop baggage. Selang berapa lama si abang tadi menghampiri saya sambal membawa tiket yang sudah di print. Alhamdulillah.

Walaupun tiket sudah dipegang, saya masih belum tenang karena belum boarding pass belum dipegang. Segala kemungkinan dan cobaan masih bisa terjadi. Masih deg deg an pake baget.

Setelah beberapa lama, pemeriksaan tiket dan passport selesai, akhirnya kami semua mendapatkan boarding pass juga. Alhalmdulillah…

Atas izin Allah, walaupun dengan berbagai tantangan, akhirnya sore itu kami semua bisa berangkat terbang ke Madinah tanpa meninggalkan siapapun di belakang. Subhanallah Walhamdulillah.

Catatan Penting, Pelajaran Bagi Pembaca, (Terutama Saya Pribadi)

Hal diatas bisa terjadi karena ada split Mahrom di visa yang terbang tidak bersamaan. Tidak masalah membuat grup dengan beda flight selama penumpang terbang dengan mahromnya.

Saya tidak tau apakah kebijakan ini hanya berlaku untuk mereka yang terbang dari Kuala Lumpur dengan Saudia airlines saja atau dari kota lain dan maskapai lain juga sama. Tapi sebaik – baiknya darimanapun kita terbang agar dokumen sudah rapih.

Dalam kasus saya, split mahrom terjadi karena pengajuan visa yang tidak bersamaan. Berhubung group kami kemarin pesertanya dari berbagai kota, dan karena satu dan lain hal passport peserta tidak datang bersamaan maka saat proses pengajuan visa pun tidak bersamaan, sehingga terjadilah case “split mahrom” ini.

Nah, itu dia sekelumit kisah kami. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk teman – teman yang ingin arrange umroh secara mandiri nanti, terutama untuk saya pribadi agar bisa lebih berhati – hati, cermat, dan menjadi pelayan tamu Allah agar lebih baik lagi.

Alhamdulillah Allah kasih pelajaran di saat semua masih di Awal, pelajaran yang sangat berharga dan berbekas sekali bagi saya pribadi.

Semoga bisa diambil hikmahnya.

Special Thanks To: Mas Iqbal & Mas Dadang yang udah ketitipan jamaah dan menjadi team leader dadakan. Akak dan Abang petugas ticketing dan check in yang membantu mencarikan solusi terbaik dan mengusahakan agar bisa pindah flight. Tim LA dan Handling baik di Indinesia maupun di Arab yang sudah membantu kami selama umroh, Teh Diang, Kang Zaky, Ustadz Asep, dan banyak lainnya yang sudah membantu kami dan tak sempat kami sebut satu per satu. Terimakasih juga untuk group umroh maret yang selalu kompak. Dari Jamaah jadi keluarga. We love you All

Dapatkan Info Tiket Umroh Promo, Group Umroh 2018, & Notifikasi Artikel Umroh Backpacker Terbaru

Dapatkan Info Tiket Umroh Promo, Group Umroh 2018, & Notifikasi Artikel Umroh Backpacker Terbaru

"Masukan Nama & Email Aktif Kamu untuk Join Miling List Khusus Umroh Backpacker "

You have Successfully Subscribed!

Share to the World:

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin
The following two tabs change content below.

Fajar Permana

Newbie Backpacker & Professional Jobless.

Latest posts by Fajar Permana (see all)

28 thoughts on “Catatan Umroh Backpacker: Pelajaran 1000$

  • Alhamdulillah ya mas fajar…
    Oya mas, saya mw bertanya, kalo membawa bayi dibawah usia 2 tahun, biaya nya seperti apa ya? Apakah full seperti orang dewasa?

    Terima kasih
    Wassalam…

    • sy bacanya juga deg-degan, wong naik bis ke KLIA yang masih 3 jam dari waktu take off saja masih bisa bikin sport jantung. Alhamdulillah semua bisa teratasi ya mas Fajar.

  • Kalau anak umur 8th dihitung dewasa atau bagaimana?
    Kalau satu keluarga (suami + istri + 3 anak) itu kamar hotelnya bisa sekamar enggak?
    Biaya umroh backpaper utk 5 org kira kira berapa ya?

    • Klo anak diatas 2 thn itungannya dewasa. Total cost tergantung Tiket, ittinerary, & fluktuasi dolar. Sekarang dolar lagi mahal banget…

      Total cost sekitar 17 – 19 jt / orang klo paket mirip reguler kemaren ( normalnya 24 – 26 jta itu)

      Klo kamar bisa diatur tar. Kemaren sebagian besar juga dibikin perkeluarga kamarnya

  • Alhamdulillah sudah kembali dari tanah suci. Tadi kebetulan bertemu dengan Riva dan berbagi cerita, seru dan menyenangkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan semoga selalu dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya, Amiin..

  • Alhamdulillah mas Fajar akhirnya semuanya sesuai dg yg diharapkan. Ini bisa jadi pengalaman berharga bagi kita.

  • Bang Fajar, kisah yang sama terjadi saat saya Umroh di Maret 2017. Tanpa sadar, tiga orang jamaah perempuan mahramnya terikut dengan pembimbing yang akan berangkat di hari kedua. Alhamdulillah, pihak travel cekatan sehingga dibelikan tiket pengganti sehingga ketiganya bisa berangkat. Rombongan pun berangkat dengan didampingi pembimbing yang memang jadwalnya bersama rombongan.

  • Luar biasa mas Fajar… ikut deg degan bacanya… pelajaran baru yang akan menambah wawasan dan pengalaman.. Subhanallah walhamdulillah laa ilaha ilallah…

  • Riva adik kandung mas fajar kah ? Kalo iya, mas fajar adalah mahrom nya riva. Mahrom seorg perempuan itu adl suami, anak lelaki yg sdh baligh, kakak lelaki, kakak lelaki ayah/ibu, kakek….
    Semoga kisah diatas bisa kita ambil ibroh nya.

    • Walaikumsalam.. iya betul mbak, riva adik kandung. Case nya pas apply visa saya bareng istri (padahal beda flight) nah riva apply menyusul visanya. Silap mahrom di visa bukan saya malah jamaah lain yg beda flight gk kekontrol..

  • Assalamualaikum Mas Fajar, seru sekali tampaknya perjalan Umrah yang lalu, lengkap dengan dramanya, saya bisa membayangkan situasi anda saat itu bagaimana degdegannya pada saat itu. terkait case mahrom memang syar’inya seorang perempuan harus pergi dengan Mahromnya itu sebenarnya wajib. Moga kejadian ini tidak terualang lagi dan jamaah perempuan yang hendak umrah sebaiknya dan sewajibnya memang pergi dengan Mahrom sebenarnya. Moga sukses selalu

    • Walaikumsalam.. betul mbak setuju sekali.. lepas kejadian itu geng jomblowati pada namain diri geng mahram. Biar cepet dapet mahram beneran katanya 🙂

  • Saya ikut deg degan dan bahagia baca akhir ceritanya, semoga ada kesempatan untuk ikut umroh bersama di akhir tahun ini, aamiin ya rabb, insya Allah ..
    Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan …

  • Alhamdulillah atas izin Allah subhanawataala mas Fajar dan rombongan telah di beri kemudahan untuk berangkat umroh tanpa ada yg tertinggal…semoga yg jomblo cepat dapat mahromnya …amin..😊

  • alhamdullilah, salah satu tantangan dalam kehidupan untuk berumroh backpacker ke tanah suci, telah abang dapat lewati, semoga Allah memberkati abang, salut buat kerjasamanya dalam rombongan sehingga dapat berangkat bersama, terus pertahankan etos kerja ini, salam buat semua rekan rekan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *